Sponsor

Sabtu, Mei 24, 2008

Kantong Krecekan Keberuntungan

MESKIPUN kini Ajeng Mamamia sudah menjadi seorang selebritis tidak berarti ia melupakan semua masa lalunya. Hal itu terlihat bagaimana ia tetap menyimpan kantong krecekan tempat menyimpan uang kala mengamen di bus kota dulu.

“Saya tidak akan membuang kantong krecekan ini mas. Karena kantong ini bagian dari sejarah hidup saya. Dan bisa dibilang kantong krecekan ini adalah kantong keberuntungan saya,” jelas gadis berkulit hitam manis ini dengan ramah sembari menunjukkan kantong krecekan plastik berwarna coklat yang sudah mulai lusuh.

Menurut Ajeng, kantong tersebut sangat penting kala dulu masih mengamen di jalanan. Selain berfungsi untuk meminta dan menyimpan uang recehan hasil mengamen dari para penumpang bus. Kantong krecekan itu juga berfungsi sebagai tanda identitas kalau dirinya adalah seorang pengamen bus kota.

“Kantong ini bukan hanya untuk tempat uang recehan saja tapi juga menjadi tanda identitas kami kala sedang mengamen. Jadi kalau di jalan kenapa-kenapa, melihat kantong krecekan ini mereka sudah tahu pemiliknya siapa. Begitu juga pihak petugas Trantib bakal mengenali kami sebagai pengamen, bukan pengemis,” kenang Ajeng yang didampingi Harry Kristiono dan Mama Cindy.

Untuk itu, Ajeng mengaku tidak akan membuang kantong tersebut karena memiliki history yang sangat berharga bagi dirinya,” Ini aja atasnya sempat robek tapi sudah saya jahit tangan loh. Pokoknya kantong ini mau saya simpan sampai anak cucu nanti. Ya, jelek-jelek begini kantong ini membawa keberuntungan bagi saya dan keluarga,” ujarnya berseloroh.

Lebih lanjut dikatakan Ajeng, walaupun kantong krecekan itu membawa keberuntungan tidak berarti dirinya mendewakan kantong tersebut yang telah merubah nasibnya dari seorang penyanyi jalanan menjadi seorang penyanyi profesional yang mulai dikenal oleh masyarakat dan industri musik Indonesia.

“Saya tetap bersyukur dan memuji kebesaran Tuhan Yesus Kristus yang telah menjadi penolong dan juru selamat saya bersama keluarga. Tanpa ikut campur tangan Tuhan, mungkin saya tidak akan bisa seperti ini. Kalau menurut logika manusia, mana mungkin saya dari pengamen jalanan turun naik bus kota bisa menjadi seperti sekarang ini. Saya sangat-sangat bersyukur atas berkat dan karunia-Nya,” jelas Ajeng mengimani keyakinannya.

Tentu saja demikan, sebelum mengikuti kontes Mamamia, Ajeng bersama Mama Cindy dan sang Ayah harus berjibaku dengan debu jalanan turun naik bus kota untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kini semua itu tidak lagi dialaminya, Ajeng sudah menjadi penyanyi profesional dan namanya pun makin populer.

Tak pelak, Ajeng yang dahulu mengais recehan Rp 100 hingga Rp 500 dari mengamen di bus kota. Kini tidak lagi, bandrol sekali show di luar kota, Ajeng mematok Rp 15 juta. “Ya, dulu saya mengais recehan dengan kantong ini dan paling banter isinya Rp 100 ribu. Dan sekarang gak cukup kali ya kalau diisi recehan dengan bandrol tersebut,” ujar gadis kelahiran Jakarta 24 November 1994 sembari bergurau dan menambahkan untuk kegiatan rohani ia tidak
menetapkan bandrol tersebut.

“Kalau untuk kegiatan rohani atau sosial ya tidak segitu bandrolnya. Ya, kadang Rp 3 hingga Rp 5 jutaan saja. Malah kadang-kadang tidak sama sekali,” demikian Ajeng. (jhon/jek)

Tidak ada komentar: