Sponsor

Senin, Agustus 18, 2008

Rayakan HUT RI Bersama Anak Jalanan

MESKIPUN sibuk dengan berbagai acara show di luar kota, Ajeng 'Mamamia' ternyata tidak melupakan rekan-rekannya sesama anak jalanan, khususnya pengamen jalanan. Bertepatan dengan peringatan HUT RI ke-63, gadis dengan nama lengkap Ajeng Astiani ini bersama kedua orang tuanya, Mama Cindy dan Herry Kristiono menggelar berbagai lomba di tanah kosong kawasan Coca-cola, Cempaka Putih, Jakarta Pusat pada Minggu (17/08/2008).>>selengkapnya

Sabtu, Juni 28, 2008

Tampil di EMPAT MATA, Tukul dan Penonton Terbius

HIRUK pikuk penonton dalam acara EMPAT MATA, Kamis (26/6/2008) pukul 21.30 WIB, terdengar geerr disusul gemuruh suara tepuk tangan ketika Tukul Arwana sang host muncul dengan gaya khasnya menyambut puluhan penonton yang memadati studio Trans7, Jl. Kapten Pierre Tendean, Jakarta Selatan.>>selengkapnya

Selasa, Juni 24, 2008

Luncurkan Blog www.ajengmamamia.blogspot.com

KIPRAHNYA di blantika industri musik nasional mulai meranjak, Ajeng Astiani, tidak pernah sepih menerima job off-air di berbagai daerah. Begitu juga tampil di berbagai acara talk show di stasiun televise, seperti Kamis (26/6/2008) gadis kelahiran 24 November 1994 ini akan tampil pada acara “Empat Mata” bersama Tukul Arwana.>>selengkapnya

Bangga, Lulus SD 08 Pulogebang

TERSIRAT kegembiraan yang tidak terhingga di wajah artis hitam manis dengan nama lengkap Ajeng Astiani ini ketika mengetahui hasil Ujian Nasional (UN) yang dilakukannya di Sekolah Dasar (SD) 08 Pulogebang, Jakarta Timur dinyatakan ‘lulus’. “Ih, aku senang banget deh bisa lulus. Padahal, sebelumnya aku khawatir banget loh,” terang Ajeng, demikian kerap disapa.>>selengkapnya

Rabu, Juni 11, 2008

Konser Ajeng Gemparkan Kota Kupang

ARTIS penyanyi Ajeng yang didampingi Mama tercintanya Cindy menggelar konser amal di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tak pelak, putri dan mama ini berhasil mengguncang kota Kupang, Selasa,(24/6). Gadis hitam manis ini menyanyikan 8 lagu. Salah satunya lagu favoritnya yakni “ Mujizat Itu Nyata”.>>selengkapnya

Sabtu, Juni 07, 2008

Ajeng 'Mamamia' Astianti, "Mau Jadi Berkat"

BAKAT berupa suara indah tidak melulu merupakan jaminan seseorang dapat menjadi terkenal. Apalagi untuk pengamen jalanan yang membutuhkan perjuangan dan keberuntungan.Inilah yang membuat Ajeng Astianti tidak lupa akan teman-teman sesama pengamen, meski ia kini sudah terkenal.>>selengkapnya

Dari Ngamen Ajeng Tembus Pentas Industri Musik

BERAWAL mengamen dari bus ke bus lainnya, tak jarang sedikit bersitegang kondektur dan supir, Ajeng kini mulai menembus blantika industri musik nasional. Sebagai jawara IV ajang Mamamia 2007, putri pertama pasangan Cindy Astuti dan Harry Kristiono – mantan gitaris Koes Plus ini telah mengantongi tawaran album religi.>>selengkapnya

Rabu, Juni 04, 2008

Konser Bersama Pengamen Jalanan

JEBOLAN ajang pencari bakat ‘Mamamia’ pertama, Ajeng, membuat gebrakan bersama anak – anak jalanan di Plaza Atrium, Jakarta Pusat, Rabu (4/6/2008)pukul 16.30. Dara hitam manis ini mengadakan konser tunggal yang bertajuk ‘Jumpa Fans Bersama Anak – Anak Jalanan’.

Tak pelak, pengunjung Plaza Atrium Senen, Jakarta Pusat dibuat histeris sembari bertepuk tangan ketika, Ajeng mengawali lagu pertamanya dengan judul Hanya Cinta Yang Bisa dari lima buah lagu yang akan dibawakannya.

Selain itu, lagu Makluk Tuhan Paling Seksi, Ayat – ayat Cinta, dan Dokter Cinta tidak kalah mendapatkan sambutan meriah dari para penontonnya. Pada konser tersebut, Ajeng juga tampil duet bersama Wisnu, finalis ‘Stardut’ dan Mama Cindy dalam lagu Sedang Ingin Bercinta dan Dirimu – Dirinya.

Uniknya, dalam konser tersebut Ajeng mengajak anak-anak pengamen jalanan menampilkan seni peran opera. “Tidak perlu malu untuk berprestasi. Karena telah terbukti aku yang dulu kerjanya sebagai pengamen bisa berprestasi di jalur musik Indonesia melalui suatu ajang bergengsi di salah satu stasiun televisi swasta di tanah air, “ jelasnya pada sela-sela acara.

Dikatakannya, prestasinya di jalur musik Indonesia boleh dikatakan masih terlalu muda. Tetapi ia bisa membuktikan kepada para pengemarnya di seluruh tanah air bahwa dirinya bisa menjadi seorang entertaint yang profesional.

“Saya akan selalu berbuat yang terbaik untuk para pengemar. Untuk itu di konser ini saya mengajak anak-anak jalanan berprestasi sesuai bakat masing-masing,” ujar gadis kelahiran 24 Nopember 1994 ini.

Ajeng mengatakan, meskipun telah menyandang artis penyanyi namun ia tidak akan melupakan komunitas pengamen jalanan. Sehingga pada acara jumpa fans ini ia memberikan suatu motivasi kepada para pengamen jalanan untuk mengikuti jejaknya berprestasi di jalur musik Indonesia.

“Saya bisa melakukan semua ini, demi tanda cinta kasih sayangku kepada teman – teman pengamen jalanan. Mereka masih bergelut sebagai pengamen dengan kerasnya kehidupan kota Jakarta,” tegasnya.

Ajeng menambahkan, saat ini ia dan manajemennya sedang membangun sebuah rumah singgah untuk anak – anak pengamen jalanan. Sedangkan dana untuk pembangunan rumah itu sendiri dari hasil tabungannya selama ini. (jhon/jek)

Sabtu, Mei 24, 2008

Kantong Krecekan Keberuntungan

MESKIPUN kini Ajeng Mamamia sudah menjadi seorang selebritis tidak berarti ia melupakan semua masa lalunya. Hal itu terlihat bagaimana ia tetap menyimpan kantong krecekan tempat menyimpan uang kala mengamen di bus kota dulu.

“Saya tidak akan membuang kantong krecekan ini mas. Karena kantong ini bagian dari sejarah hidup saya. Dan bisa dibilang kantong krecekan ini adalah kantong keberuntungan saya,” jelas gadis berkulit hitam manis ini dengan ramah sembari menunjukkan kantong krecekan plastik berwarna coklat yang sudah mulai lusuh.

Menurut Ajeng, kantong tersebut sangat penting kala dulu masih mengamen di jalanan. Selain berfungsi untuk meminta dan menyimpan uang recehan hasil mengamen dari para penumpang bus. Kantong krecekan itu juga berfungsi sebagai tanda identitas kalau dirinya adalah seorang pengamen bus kota.

“Kantong ini bukan hanya untuk tempat uang recehan saja tapi juga menjadi tanda identitas kami kala sedang mengamen. Jadi kalau di jalan kenapa-kenapa, melihat kantong krecekan ini mereka sudah tahu pemiliknya siapa. Begitu juga pihak petugas Trantib bakal mengenali kami sebagai pengamen, bukan pengemis,” kenang Ajeng yang didampingi Harry Kristiono dan Mama Cindy.

Untuk itu, Ajeng mengaku tidak akan membuang kantong tersebut karena memiliki history yang sangat berharga bagi dirinya,” Ini aja atasnya sempat robek tapi sudah saya jahit tangan loh. Pokoknya kantong ini mau saya simpan sampai anak cucu nanti. Ya, jelek-jelek begini kantong ini membawa keberuntungan bagi saya dan keluarga,” ujarnya berseloroh.

Lebih lanjut dikatakan Ajeng, walaupun kantong krecekan itu membawa keberuntungan tidak berarti dirinya mendewakan kantong tersebut yang telah merubah nasibnya dari seorang penyanyi jalanan menjadi seorang penyanyi profesional yang mulai dikenal oleh masyarakat dan industri musik Indonesia.

“Saya tetap bersyukur dan memuji kebesaran Tuhan Yesus Kristus yang telah menjadi penolong dan juru selamat saya bersama keluarga. Tanpa ikut campur tangan Tuhan, mungkin saya tidak akan bisa seperti ini. Kalau menurut logika manusia, mana mungkin saya dari pengamen jalanan turun naik bus kota bisa menjadi seperti sekarang ini. Saya sangat-sangat bersyukur atas berkat dan karunia-Nya,” jelas Ajeng mengimani keyakinannya.

Tentu saja demikan, sebelum mengikuti kontes Mamamia, Ajeng bersama Mama Cindy dan sang Ayah harus berjibaku dengan debu jalanan turun naik bus kota untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kini semua itu tidak lagi dialaminya, Ajeng sudah menjadi penyanyi profesional dan namanya pun makin populer.

Tak pelak, Ajeng yang dahulu mengais recehan Rp 100 hingga Rp 500 dari mengamen di bus kota. Kini tidak lagi, bandrol sekali show di luar kota, Ajeng mematok Rp 15 juta. “Ya, dulu saya mengais recehan dengan kantong ini dan paling banter isinya Rp 100 ribu. Dan sekarang gak cukup kali ya kalau diisi recehan dengan bandrol tersebut,” ujar gadis kelahiran Jakarta 24 November 1994 sembari bergurau dan menambahkan untuk kegiatan rohani ia tidak
menetapkan bandrol tersebut.

“Kalau untuk kegiatan rohani atau sosial ya tidak segitu bandrolnya. Ya, kadang Rp 3 hingga Rp 5 jutaan saja. Malah kadang-kadang tidak sama sekali,” demikian Ajeng. (jhon/jek)

Minggu, Mei 18, 2008

Pengamen yang Jadi Bintang

SIAPA yang menyangka pengamen jalanan di Jakarta, Ajeng Astiani, bisa menjadi seorang penyanyi terkenal di jagat ini. Padahal semua tahu kerjanya hanya sebagai seorang pengamen yang didampingi oleh kedua orang tuanya bernyanyi dari satu bis ke bis yang lain.

Namun garis tangannya mengatakan lain. Tuhan Yesus selalu mendengarkan setiap doa umatnya. Ketika sedang mengamen di atas bis jurusan Kampung Rambutan – Grogol, ada seorang ibu ketika mendengar suaranya yang begitu bagus, langsung memberitahukan kepadanya untuk mengikuti kontes Mamamia di Indosiar.

“Kamu pasti berhasil sebab suaramu sangat bagus. Ibu tidak mau lagi melihat kamu mengamen dari satu bis ke bis yang lain,” ungkap Mama Cindy menirukan ucapan penumpang tadi.

Saat itu juga, Ajeng bersama kedua orang tuanya mencoba untuk mencari informasi tentang pendaftaran untuk mengikuti ajang tersebut. Akhirnya mereka mendaftar sebagai peserta untuk mengikuti audisi Mamamia.

Dengan suatu tekad agar bisa mengangkat kehidupan ekonomi keluarga. Ajeng mulai mengikuti audisi dari audisi hingga masuk dua belas besar Mamamia. Namun perjuangannya belum berhenti sampai disitu saja. Ia harus bertarung dengan sebelas peserta lainnya.

Hasil dari suatu perjuangan yang sangat panjang dilaluinya. Akhirnya, Ajeng bisa melewati masa – masa kritis dan menegangkan itu. Ia melangka dengan pasti hingga masuk terus. Walaupun akhirnya ia harus puas hanya bisa masuk empat besar Mamamia saja.

Namun itun adalah suatu perjuangan serta doanya. Yang tadinya dikenal sebagai seorang pengamen, kini namanya mulai terukir sebagai penyanyi pop di blantika musik Indonesia, setelah mengikuti ajang pencari bakat Mamamia.

Walaupun perjuangan anak kedua dari enam bersaudara dari pasangan musisi Indonesia Herry Kristiono dan Mama Cindy Astuti ini hanya dapat menduduki peringkat ke empat pada ajang tersebut, namun tidak membuatnya harus putus asa dan kecewa. ”Mungkin ini jalan Tuhan untukku. Saya harus menerima dengan lapang dada,” ungkapnya.

Dengan predikat sebagai jura empat inilah membuat gadis hitam manis ini harus belajar dan belajar terus untuk mengasah vokalnya agar lebih baik lagi. Dan hasilnya, Ajeng kini bisa menikmati segala jerih payahnya selama ini.

Ajeng nama panggilan dari Ajeng Astiani ini mulai sibuk dengan berbagai kegiatan menyanyinya. Dibawah bendera Sony BMG ia banyak mendapat job-job menyanyi ke beberapa daerah di Indonesia dan bahkan dalam waktu dekat ini ia dikontrak untuk bernyanyi ke negara tetangga Malaysia.

“Saya bisa menikmati semua ini. bukan datangnya begitu saja seperti membalikkan telapak tangan. Tetapi adanya campur tangan Tuhan Yesus di dalam diriku,” ungkap gadis kelahiran Jakarta 24 November 1994 yang didampingi kedua orang tuanya .

Walaupun namanya telah terkenal, tetapi dalam kesehariannya ia tidak pernah berubah gaya hidup seperti kebanyakan artis yang mulai naik daun. Ia selalu berpenampilan bersahaja dan sederhana. Sebab ia menyadari latar belakang kehidupannya di masa lalu.

Apalaginya Mama Cindy yang berperan sebagai manajernya Ajeng selalu mendampinginya dikala ia bernyanyi selalu mengingatkannya,” Ajeng kamu itu lbukan siapa-siapa latar belakang kamu itu pengamen. Jadi mama tidak mau melihat kamu sombong atau angkuh dengan orang.”

Ajeng kini bisa membantu kedua orang tuanya. Bahkan ia kini menjadi tulang punggung keluarga. Selain membiayai adik – adiknya sekolah. Ajeng telah membeli rumah dan mobil sebagai hadiah kepada kedua orang tuanya yang selama ini telah mendidik dan membesarkannya.

Gadis yang selalu senyum ini punya cita-cita untuk dapat membahagiakan anak-anak yang kurang beruntung (pengamen). Untuk mewujudkannya ia sedang membangun sebuah rumah singgah bagi mereka di kawasan Bekasi. Mulai dari beli tanah sempai membangun rumah tersebut dari hasil kerja kerasnya selama ini. Di rumah singgah ini. para pengamen akan mendapat ketrampilan serta modal usaha.

“Saya dan kedua orang tuaku selama mengamen tidur di stasiun Senen yang saya sebut rumah idaman. Makanya, saya tahu persis kehidupan teman-teman pengamen. Saya ingin merubah hidup mereka,” tegasnya. (jhon/jek).